Senin, 27 Oktober 2014

pahit manis sebuah cinta

Pahit manis sebuah cinta


Aku memandang hpku dengan geram. Kini, hp bukanlah sarana penyemangat, hiburan ataupun komunikasi bagiku. Hp ini menjadi suram bagiku. Dentingan suara telpon dan sms pun tak pernah ku hiraukan. Percuma saja! Jika aku memandang hpku, Telfon darimu, SMS darimu ataupun Mms darimu tidak lagi kan kudapatkan. Aku merasa benar-benar kacau. Lewat sms, kau memaki, mencaci, membentak dan menyalahkanku. Sementara aku sendiri tidak tau dosa apa yang telah ku perbuat padamu hingga berakibat seperti ini.
Dia bernama Andi Raiis , dia yang mengawali segalanya.  Dia yang memulai perkenalan kita. Perkenalan yang aku lupa kapan itu terjadi. Dan entah bagaimana bisa terjadi. Aku sudah melupakannya. Yang ku tau dan ku ingat, kau begitu menyenangkan saat itu. Kita tertawa, bercanda dan bercerita apapun yang menarik. Penting ataupun tidak penting. Kau selalu memiliki topik untuk dibicarakan lewat pesan dan telpon. Kita pun saling bertukar foto. Foto masa lalu kita yang konyol dan lucu.
Foto itu adalah foto kita saat berumur 5 tahun. Foto kita yang unyu dan imut itu sukses membuat kita tertawa lepas di tempat masing-masing. Dan tentunya di depan hp masing-masing. Kemudian kau mengirim gambar kucing anggora dan menyamakanku dengan gambar menggemaskan itu. Aku tak mau kalah. Aku membalas dengan mengirimimu gambar kelinci. Kau tidak terima dan marah-marah tak jelas padaku karena menurutnya kelinci adalah sosok cwo yang playboy.
Semakin lama aku merasakan ada getaran dalam relung hatiku, ikut menari riang gembira, bergoyang-goyang, serta terbang melayang. Aku bahagia. Perhatian yang kau berikan padaku kurasa tulus. Kau bercerita tentang cinta. Segala pendapatmu tentang cinta kau ceritakan padaku. Dengan caramu. Caramu yang sangat menyentuh hatiku. Caramu yang membuatku semakin terpesona oleh sosokmu.
Pada suatu saat kita saling menceritakan pengalaman cinta kita. Cinta pertamamu begitu indah. Kau menceritakan dengan gaya laksana sang pujangga cinta. Kau juga bercerita tentang mantan-mantan pacarmu. Bercerita tentang kau yang pernah menjadi ‘Kekasih Gelap’. Di dalam hati aku membayangkan kebodohanmu yang dengan santai menjadi Selingkuhan. Betapa cerobohnya dirimu. Bagaimana jika pacar asli dari pacarmu itu tau? Entahlah. Itu bukan urusanku. Jika kamu milikku, aku berjanji takkan pernah menduakanmu.
Di setiap malam harinya, kita selalu bersapa di facebook, sms, ataupun telpon. Suara lembutmu yang mengucapkan “Good Night” berhasil menarik bibir ini hingga mengukir sebuah senyuman manis. Walau hanya 2 kata, tapi aku tak bisa untuk tidak mengartikan itu wujud perhatianmu padaku. Aku terlelap dalam tidurku bersama mimpiku. Kulihat bayanganmu tersenyum manis di mimpiku. Ya Allah! Kurasa aku mulai menyukainya dan menyayanginya.
Dan lagi terjadi, di lain hari. Kau adalah seorang pemain bola. Aku tahu itu, karena kita memang satu sekolah. Dan aku mencari berbagai informasi tentangmu dari teman-teman dekatmu. Aku juga sangat menyukai sepak bola. Kita membicarakan tentang tim favorit kita. Pemain idola kita. Kau menyukai Arsenal, sedangkan aku menyukai Barcelona. Di hari sabtu dan minggu adalah hari latihanmu. Kau selalu mengabariku. Apa yang sedang kau lakukan, dimana keberadaanmu, bersama siapa dirimu saat itu. Kau mengabariku. Sesudah ataupun sebelum latihan kau mengirimiku sms. Dan yang semakin membuatku kaget adalah, kau memanggilku ‘SAYANG’.
Aku kira aku memang orang bodoh. Karena hubungan kita berangsur-angsur tanpa ikatan yang jelas. Di malam minggu setelah kemenangan tim sepak bolamu yang mendapat juara 1, kau mengajakku jalan, untuk nonton di cs (cibinong squer) dan ini adalah kali pertamaku jalan  denganmu. Ah apa ini bisa dibilang kencan? Yaaa kurasa memang begitu. Kau menghampiri langsung di rumahku, dengan motormu tentunya. Dan tak ketinggalan kau meminta izin kepada ayahku tersayang untuk mengajakku keluar. Betapa bahagianya diriku. Bagaimana bisa aku hanya menganggap ini semua wajar sebagai teman. Semua kaum perempuan pun akan merasa benar-benar dicintai saat seseorang yang disayangi melakukan hal itu.
Aku membonceng di belakang mu dengan perasaan campur aduk. Kau melajukan motormu itu sangat kencang. Ah laki-laki memang modus. Itu taktik agar perempuan takut jatuh lalu akan merangkul pinggangnya dengan erat. Mau tak mau aku merangkul pinggangmu. Semakin kencang lajumu, semakin erat tanganku melingkari pinggangmu. Denyut jantungku begitu kencang, darah terpompa dari bilik kiri ke seluruh tubuh, arteri di tanganku mengalir deras, aku merasa seperti lari maraton. Aku berharap kau bisa merasakannya.
2 hari setelah malam itu, kau menghilang tak berjejak. Pesan sms darimu kutunggu-tunggu juga tak kunjung datang. Aku berfikir, mungkinkah kenangan malam itu hanya mimpi? Tidak mungkin! Aku merasakan itu semua benar-benar nyata! Aku mencubit lenganku waktu itu, dan rasanya sakit. Ah atau… mungkinkah malam itu adalah perayaan perpisahan kita? Oh Ya Allah… Kumohon jangaaan, Karna aku sangat menyayanginya.
Hingga suatu ketika kabar burung terdengar oleh telingaku. Kau memiliki kekasih baru. Yang tak lain adalah adik kelasku sendiri. Aku mencoba meminta penjelasan padamu, dan kau tak mengakuinya. Aku pun meminta penjelasan kepada adik kelas ku itu tapi dia juga tidak mengakuinya. Aku mendesaknya dan akhirnya ia mengakui itu. Bahwa dia yang merupakan adik kelasku adalah kekasih dari orang yang selama ini aku cintai. Aku memintanya menceritakan bagaimana dia bisa jadian denganmu. Aku tak bisa mengontrol emosiku saat itu. Aku luapkan padanya. Sementara kau dengan santai justru membelanya dan terus-terusan menyudutkanku, menyalahkanku, membentakku, bahkan mencaci maki diriku.
Air mataku terus berlinang. Hati ini terasa sakit dan perih. Bagai tertusuk belati yang panjang. Aku ingin sekali berteriak saat itu, tapi aku menyadari keberadaanku sedang ada di sekolah. Aku khawatir orang-orang akan menyangka aku ini GILA. Ku urungkan niatku berteriak dan terus menangis tersendu-sendu. hp yang kini kupegang terasa menggetarkan. Lewat pesan singkat kalian berterus terang meminta maaf kepadaku atas dosa yang kalian perbuat. Dentingan hpku berbunyi tanpa henti. Aku tak kuasa tanpa pikir panjang, kumatikan saja hp ini. Hp yang menyisakan luka mendalam bagiku.
Dan setelah kejadian itu aku menjadi seorang perempuan yang rapuh, sensitif, pemurung dan selalu mengangis.
Dan untungnya kejadian ini dihari dimana aku mendapat pengumuman kelulusan ku dismp yang setelah itu aku gak mungkin bisa ketemu dia lagi atau pun pacarnya karna sekarang kita sudah lulus dan akan melanjutkan disekolah yang berbeda, aku melanjutkan sekolah ku smk farmasi bhakti kencana sedangkan dia melanjutkan sekolahnya di smk pgri2 citeureup.
Hari demi hari berlalu dan sedikit demi sedikit perasaan itu pun hilang, semua berubah normal kembali setelah aku mendapatkan sahabat- sahabat baru ku di smk yang sangat menyenangkan dan selalu membuat ku terhibur, ketawa,  melepas semua kesedihan ku yang selama ini ku rasakan.
Setelah beberapa bulan berlalu, tiba-tiba aku diminta untuk menjadi pagerayu di acara pernikahan tetanggaku yang bernama teh dede, dan tepatnya ditangal 24-06-12 aku menjadi pagerayu di acara pernikahan itu dan tiba-tiba seorang cowo tampan, dan dewasa menghampiriku dan mengajak ku untuk berkenalan kita saling bertukeran nomor hp yang gak aku sangka ternyata dia adalah adik dari teh dede yang tinggal di bandung dan sekarang dia menetap disini.
Dia bernama adrian pratama, sosok cwo yang dewa, tampan, baik, sabar, gk pernah ketinggalan sama yang namanya ibadah, kita nyambung saat ngobrol, aku sangat nyaman berada di samping dia, dia beda dari cwo-cwo yang pernah aku kenal. Dia cwo yang bisa menyembuhkan luka ku di masa lalu yang sangat pahit.
Beberapa bulan berlalu dan hari itu pun datang dimana dia menyatakan perasaan nya pada ku di suasana yang menurutku sangat romantis dan tepatnya tanggal 28-03-2013 kita resmi pacaran dan mungkin dia adalah cwo yang di turunkan Allah untuk menbuat ku selalu bahagia, dan mudah-mudahan dia menjadi cinta terakhirku .
                                                                                                      





Tamat